kELiRu
Pagi ni sewaktu menunggu bas USM, seorang perempuan Cina menegurku dari arah belakang; ingin bertanyakan sesuatu. Mulanya dia berbahasa Cina, tetapi apabila aku memalingkan muka ke arahnya, dia berbahasa Melayu pula. Mungkin dari belakang, cara aku berpakaian memang menampakkan aku ni Cina, tapi dari aspek wajah, memang tidak nampak seperti Cina. Dia bertanyakan bas USM belum sampai ke, jadi aku cuma menggelengkan kepala, kemudian mengangguk bila dia kata bas dah sampai (dah nampak bas). Bila dia ucap terima kasih, aku cuma kata "ok". Untuk berbahasa Cina, takut dia terkejut beruk nanti; mungkin juga malu berbahasa Melayu denganku. Kalau berbahasa Melayu dengannya, tentu dia rasa pelik kalau akhirnya dapat tahu bahwa aku ni Cina. Perkara seperti ini memang sudah selalu terjadi dalam hidupku.
Aku pernah disangka kaum bumiputera Sabah & Sarawak, Indon, Thai malah orang Vietnam. Tak kisahlah, pokoknya aku ni special. Inilah wajah yang diberi oleh Tuhan kepadaku. Sesekali rasa seronok juga dapat mengelirukan orang.

1 Comments:
Ya, kadang kita dikepung identitas, sama ada biologis, politik bahkan ideologi. Yang pertama, alamiah, tapi dua yang terakhir buatan kita, yang acapkali membekap, sehingga membuat sesak. Tapi, ironisnya, dua yang terakhir juga dianggap bawaan [terlahir bersama genetik].
***
Saya menentang identitas yang ditempelkan di jidat saya secara sederhana. Keindonesiaan saya adalah warisan dari Cina [sejarah], India [Kebudayaan] dan Arab [agama] serta Barat [pragmatisme]. Kompleks, bukan?
***
Kita berbagi sahaja, agar belenggu itu tidak menghalangi kita, meretas batas, dan akhirnya merayakan hidup dengan gembira!
Post a Comment
<< Home